MELACAK BALANSE MADAM

Teks oleh Deddy Arsya

Pada 1 Januari 1561, sebuah kapal layar besar berangkat dari Lisabon menuju Malaka. Namun, mendekati Ceylon, “angin barat yang bergejolak, dan deru angin keras dari pantai, hujan dan badai petir” telah membawa kapal itu terseret lebih ke tenggara. Alih-alih memasuki pintu Selat Malaka, kapal itu terus terbawa arus dan karam pada sebuah pulau di lepas Pantai Barat Sumatra.

Hendrique Dias, ahli obat dari Paroki Crato yang ada di atas kapal itu, menulis sebuah laporan. Naufragio da nao S. Paulo na Ilha de Samatra no anno de 1561 (Bangkai kapal Santo Paul di Pulau Samatra pada tahun 1561). Berisi kisah pelayaran yang dramatis namun bertele-tele. Nama dan tempat yang dicupliknya cenderung samar dan sulit terlacak. Kapal itu terdampar, dalam keadaan rusak parah, tersadai-letai pada sebuah pantai di pulau yang tak mereka ketahui. Magalhaes de Castro dalam Mar de Especiarias—A viegem de um portugues pela Indoneia (2019) mengidentifikasi titik kapal itu terdampar di Enggano, sebuah pulau di lepas pantai Bengkulu; sedangkan Anthony Reid pada Sumatra Tempo Doeloe (2014) memperkirakan di sebuah pulau di lepas pantai Tiku.

Di pulau misterius tak bernama di lepas pantai Minangkabau itu, awak-awak kapal Portugis membangun permukiman darurat. Dari sisa-sisa kapal yang pecah berantakan, mereka membangun pondok atau hunian. Lalu, mereka juga dikatakan dalam laporan itu, membangun gereja, menjalankan kebaktian pada minggu pagi dan misa pada malam sebelumnya, mendengungkan litani, dan do-doa, dan berharap keselamatan terus-menerus dari gangguan 'orang-orang negro'. Mereka barangkali telah salah mengindentifikasi, orang-orang pantai atau pulau berkulit hitam, dengan rambut ikal setengah keriting, sebagai negro, alih-alih Melayu.

BLM A5
BLM A6

Apakah para pelaut Portugis itu sempat untuk kawin-mawin dengan penduduk asli? Sebelum kapal besar mereka siap diperbaiki atau dibangun lagi, misalnya?

Tidak disebut-sebut ada interaksi yang baik semacam itu. Tidak disinggung juga niat untuk menetap. Yang menonjol dari catatan tersebut ialah kecurigaan yang mengendap, dan permusuhan yang berdarah. Sikap saling curiga yang berujung kepada penyerangan yang berujung maut. 

Ada memang, jeda singkat, yang ramah dan saling berjabat. Terjadi tukar-menukar barang kebutuhan, “beras, ayam, kapuk, ubi, buah ara, garam, terong, lada, dan perbekalan lainnya, dan beberapa emas dalam bentuk bubuk” dari penduduk asli, dengan “pisau, paku, dan benda-benda lainnya” dari kapal Portugis. Sikap curiga hilang sejenak: “terbukti [penduduk lokal] sangat bersahabat dengan kami, sehingga dengan banyak percakapan dan persahabatan”. Namun, segera saja, ia kembali—kecurigaan itu mendarah daging: “sikap ceroboh, kepercayaan, dan kepura-puraan persahabatan di pihak orang-orang ini.”

Jadi, mungkinkah interaksi yang lebih dalam, berupa transaksi kultural pernah terjadi?

Namun, kata orang, jejak Portugis tertinggal banyak di situ. Seorang pengarang Portugis, Magalhaes de Castro yang telah dikutip juga di atas, misalnya, menulis: " ... di daerah pesisir pantai Pulau Sumatra pengaruh Portugis terpampang dengan jelas pada wajah masyarakat dan pada besi meriamnya." Lain dari itu, ada pula yang mengatakan (Indrayuda, 2003), sekalipun dengan dalil lemah, jejak itu juga pada pakaian pengantin pria, pada musik dan lagu, dan pada tari.

***

Balanse Madam, tarian itu, sudah sepi peminat. Namun, bukannya tidak ada yang suka. Generasi tua masih mengingat bagaimana mereka menyukai tari itu, memburunya sampai ke berbagai pesta. Itu sejenis tarian yang berkarakter ceria dan berfokus pada gerak joget, dengan gerakan langkah yang kecil-kecil, dan dengan durasi cepat serta melenggang. Tari ini merupakan tarian sosial yang dipertunjukkan dalam pesta perkawinan, pengangkatan kepala kampung, dan acara keselamatan dan perayaan kelahiran, kata Indrayuda dalam laporan penelitian “Makna dan Fungsi Tari Balanse Madam pada Masyarakat Suku Nias di Seberang Palinggam Kota Padang” (2003).

"Anda tentu kenal lagu Kaparinyo yang begitu populer di Padang?" begitu Rusli Amran dalam Padang Riwayatmu Dulu (1986) bertanya. Pada eranya, memang lagu itu terkenal sekali. Lagu itu, semacam melodi, sebenarnya, liriknya bisa saja diubah-ubah. "Sebuh jenis musik yang pada awalnya disebarkan di daerah pesisir Sumatra dan kemudian meluas ke seluruh Nusantara," kata Magalhaes de Castro (2019). Lagu itu ialah lagu yang biasa diperdengarkan untuk mengiringi Tari Balanse Madam. "Kaparinyo itu berasal dari lagu cafrinho, tema yang berdasar Portugis," kata penulis Portugis itu selengkapnya.

Akan tetapi, bagaimana dengan Balanse Madam yang diiringinya?

Indrayuda, dalam “Fungsi Tari Balanse Madam dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Nias Bandar Raya Padang” (2009), menyebut bahwa Balanse Madam adalah sebuah tarian yang biasa dipertunjukkan oleh komunitas orang Nias di Padang. Dikatakan pula bahwa tari ini semula diadopsi oleh komunitas perantau Nias di sana dari sejenis tarian orang Portugis. Lama kelamaan tarian itu mendapat formatnya sendiri. Akhirnya tarian itu menjadi bagian dari musik Gamad, sebuah genre musik hibrida yang dikenal di Padang (seperti halnya musik Keroncong di Batavia).

BLM A2

Saya telah mencoba melacak catatan Portugis pada periode awal. Hendrique Dias, seperti yang dibicarakan di bagian pembuka, sama sekali tak menyinggung tentang semacam kesenian atau sejenis tari.  Sumber-sumber VOC, di masa setelah pamor Portugis meredup, juga tidak pernah menyebut apa-apa tentang tarian ini. Padahal, Nias dan Kompeni cukup intens bergaul di Muara Padang, tempat benteng mereka, Fort Buuren, berdiri besar megah. Orang-orang bebas maupun budak-budak dari Nias secara berkala datang dan didatangkan ke Padang sebagai pekerja—kuli dan pesuruh. Laporan dalam Exhibitum in Judicia—yang berisi berita acara pemeriksaan dan keputusan pengadilan (hijsch en conclusie)—memuat banyak kasus yang melibatkan mereka. Dalam kota, ada rumah dan tanah milik perempuan Nias yang merupakan janda seorang totok. Artinya, sudah ada kawin-mawin di antara Eropa dan Nias di Padang pada era tersebut. Namun, tidak ada penjelasan tentang kehadiran Tari Balanse Madam yang dimaksud.

Dari beribu-ribu halaman laporan VOC di pantai barat Sumatra, mengenai kesenian hanya pernah dilaporkan tentang rombongan pemusik dan penarik dari Pariaman yang dibawa masuk ke dalam benteng kecil di Pulau Cingkuk untuk menghibur prajurit pada era Jan van Groenewegen pada 1665. Karya-karya etnografi abad ke-18 mencatat tentang tarian dan musik tradisi orang-orang Melayu-Minangkabau di Padang. Karya-karya itu mencatat tentang penggunaan tambur dan serunai, alat musik pukul dan tiup, juga ada sedikit tarian tradisional. Sama sekali tidak menyinggung tentang suatu bentuk akulturasi yang dapat diidentifikasi sebagai pengaruh Eropa, apatah lagi Portugis.

Gusti Asnan, Profesor Sejarah dari Universitas Andalas mengatakan, "Sejauh yang saya tahu, tidak ada jejak-jejek Portugis di negeri kita ini (Sumatra Barat)".

Lalu dari mana asal-usul Tari Balanse Madam dapat ditelusuri?

Saya mewawancarai Anatona (2024), Doktor Sejarah dari Universitas Andalas. Dia mengkonfirmasi, memang itu tarian dengan pengaruh Portugis. Asal-usulnya susah ditelusuri. Sumbernya, seluruhnya berupa wawancara.  "Sumbernya lebih ke sejarah lisan. Awalnya dan asalnya susah dilacak. Tapi masa kolonial Belanda sudah ada," katanya sang doktor yang asli Nias itu.

Suryadi (2014), Doktor Leiden asal Minangkabau, telah mencoba juga melakukan pelacakan untuk era itu. Dia menemukan sebuah potret, yang dibuat pada 1948, yang mengabadikan suasana pesta Tari Balanse Madam. Pada captionnya tertulis: "Ujung Karang, Padang, adalah kampung yang dihuni oleh orang Nias. Dalam pesta Jubelium Kerajaan Belanda yang berlangsung dari pagi hingga malam hari, tarian itu selalu dipentaskan. Ada banyak tarian lain yang dipentaskan, yang punya karakter sejarah dan eksotis. Sebuah tarian Perancis yang disebut “Katrelie” (nama umumnya “Blanche touche madame”) yang berasal dari masa ketika Perancis menduduki pantai barat Sumatra, dilakukan oleh penduduk desa itu”.

Syofiardi (2022), jurnalis dan penulis sejarah, terlihat mengamini Suryadi. Dalam artikelnya berjudul “Sedikit Mendalami Sejarah Benteng Pulau Cingkuk” (2021), dia menulis kalau pasukan bajak laut itu punya kedekatan dengan Nias di Padang. Dia menyandarkan pendapatnya dari keterangan Colombijn dalam buku Paco-Paco Kota Padang (2006) yang mengatakan "Mereka mengekspresikan hal ini secara simbolis sebelum meninggalkan pantai: sambil menyanyikan La Marseillaise, dengan mengangkat sebatang pohon kemerdekaan dan memasangkan topi Nias di atasnya karena tidak mempunyai topi Phrygian".

Akan tetap, Le Meme tidak lama menguasai Padang. Hanya hitungan minggu. Adegan penggunaan topi Nias oleh pelaut Prancis, tidak otomatis menunjukkan kedekatan antarkedua bangsa. Bagaimana mungkin sebuah anasir budaya dapat diwariskan dan mengendap kemudian pada suatu komunitas masyarakat hanya dalam interaksi yang singkat dan tidak intens?

Saya menanyakan soal itu ke Aldo Zirsov (2024). "Periode Le Meme itu terlalu singkat untuk bisa mewariskan sebuah tradisi seni berupa tari," katanya. Dia menawarkan pandangan lain. "Balanse Madam mungkin berasal dari quadrille dance, sejenis tarian militer berkembang di Prancis", kata Aldo. Tarian ini populer di seluruh Eropa dan tersebar ke seluruh negara jajahan dan menjadi tari dansa-dansi penduduk Eropa di tanah jajahan.

BLM A7
BLM A8

Saya membaca catatan J.C. Boelhouwer, Kenang-kenangan di Sumatra Barat Tahun 1831-1834 (diterjemahkan 2009). Perwira Belanda itu dikirim ke Padang pada awal abad ke-19 untuk berperang dengan Padri. Di Padang, di rumah Residen Kolonel Elout, ia disambut musik militer dan pesta dansa, yang katanya “sangat menggembirakan hati”. Tidak hanya ada agenda kesenian berupa musik dan dansa dalam pesta penyambutan kedatangannya itu, tetapi juga dalam merayakan beberapa kemenangan Kompeni atas Padri kemudian. “Ketika itu orang di Padang hanya menari anglaises. Dengan susah payah kami melakukan quadrille dengan bentuk-bentuk yang lebih mudah. Yang pertama, yang lebih disukai, lebih-lebih oleh nyonya-nyonya, adalah satu rombongan dengan satu baris yang terdiri dari 20 atau lebih pasangan. Paling tidak 3 sampai 4 kali dansa itu harus diselesaikan tanpa sedikitpun mereka memperlihatkan tanda-tanda kelelahan,” demikian pesta dansa itu digambarkan Bolhouwer.

Catatan perjalanan Boelhouwer mengonfirmasi kalau dalam pesta-pesta dansa para perwira Belanda di Padang awal abad ke-19, memang dipertunjukkan tari quadrille. Tari ini pun, sebagai tarian militer, diiringi istrumen musik militer. Sekalipun disebut kalau tarian ini belum begitu populer di Padang saat itu. Namun, dapatkah dikatakan, kalau tarian jenis inilah yang kemudian diadopsi oleh pemerhati (penonton) tarian ini, yaitu para pembantu, budak, penjaga rumah dan kantor, dari kalangan pribumi yang bekerja kepada orang-orang Eropa itu?

Di beberapa tanah jajahan, kata Aldo lagi, seperti Karibia dan Jamaika, adoptasi tarian militer ini memang populer di kalangan budak. Dari membaca beberapa artikel, melihat tariannya, dan mempertimbangkan posisi warga Nias di Padang, Aldo sampai pada kesimpulan, "Aku pikir, ini juga yang terjadi dengan Tari Balanse Madam ini, melalui warga Nias yang bekerja sebagai budak, pembantu dan penjaga di rumah dan kantor warga Eropa di Padang."

BLM B1

Jadi, dapatlah dikatakan, Tari Balanse Madam ialah hasil akulturasi dengan masyarakat lokal yang dipengaruhi oleh budaya asing (Eropa dan tidak harus spesifik Portugis). Prosesnya untuk dapat diadopsi dan mengalami akulturasi ialah dengan dilaksanakan berulang-ulang dalam waktu yang relatif lama dan melibatkan warga lokal (pribumi) sebagai penerima.  Wilayah tinggal orang Nias yang relatif dekat dengan permukiman Belanda di Padang telah memungkinkan mereka sering berinteraksi dengan yang terakhir ini. Pekerjaan mereka sebagai budak atau pesuruh di rumah-rumah dan kantor-kantor Belanda, juga telah memungkinkan mereka melihat keseharian penduduk Eropa dengan budaya mereka secara dekat dan intens di Padang. Sehingga dari situ, dapat tercipta sebuah produk budaya hasil akulturasi disebabkan kedekatan pelaku budaya yang melihat langsung sebuah kesenian yang dilakukan sang tuan rumah/majikan bangsa Eropa.

Kata Amran, ketika dia menulis bukunya pada 1986, Tari Balanse Madam begitu digemari, terutama di kalangan muda-mudi Padang. Lagu pengiringnya, Kaparinyo, bahkan tidak saja dipopulerkan penyanyi Minang sendiri semisal Elly Kasim, namun juga penyanyi non-Minang sekelas Betaria Sonatha. Sebagaimana umumnya sebuah bentuk budaya, tari ini mengalami pergeseran dan transformasi. Perubahannya mungkin telah terjadi di masa yang lebih awal. Akan tetapi, tampak signifikan pada era 1990.

Fatrina dan Stevenson, dalam artikelnya “Perubahan dan Keberlanjutan Tari Balanse Madam di Lingkungan Masyarakat Nias Padang” (2018) menemukan bahwa perubahan itu mencakup dua hal. Penarinya sudah tidak harus perempuan dan laki-laki yang sudah menikah, tetapi remaja dan muda-mud. Musik pengiringnya mengalami perubahan irama, dan terkadang tidak lagi diiringi live music, namun cukup menggunakan musik rekaman. Akan tetapi, kata mereka, justru inilah salah satu bentuk keberlanjutan. Perubahan-perubahan tersebut memungkinkan Tari Balanse Madame tetap bertahan sampai sekarang.