
Arozato bangkit dari duduknya dan kembali memandangi langit. Dia beranjak beberapa langkah dari kursi lalu menampungkan telapak tangannya ke udara. Dengan wajah masam, Arozato kembali duduk dan menarik nafas dalam. Belum lama pantatnya menyentuh kursi kayu yang didudukinya, apa yang dari tadi Arozato cemaskan benar-benar terjadi. “Kita tunggu sampai reda. Jika hujan tak berhenti, terpaksa malam ini kita tidak latihan,” katanya.
Nuryanti berlari-lari kecil menuju rumah Arozato yang berada tak jauh dari mulut jalan di Kampung Sudut, Seberang Palinggam di selatan Kota Padang. Dia mengibaskan-ngibaskan air hujan dari handuk yang terlilit di kepalanya. Sebelum Nuryanti, beberapa remaja sudah lebih dahulu tiba. Melihat orang-orang berdatangan Arozato mulai berhitung. “Cukup. Kita bisa mulai,” katanya. Arozato kemudian mengeluarkan pengeras suara nirkabel dari dalam rumahnya, memasang sebuah flashdisk. Dari perangkat audio itu kemudian terdengar musik gamat. Musik Padang masyarakat di Sumatera Barat menyebutnya.
Alunan gesekan biola dan akordeon yang keluar dari pengeras suara terdengar begitu merdu di halaman rumah Arozato. Empat pasang penari, tuan dan madam, saling bergandeng tangan bersiap memulai dansa. Mereka berbaris membentuk garis lurus, saling berhadapan dan kemudian bergerak memutar. Commander atau pemimpin gerak mulai memberikan perintah. Baru beberapa langkah, musik gamat yang diputar Arozato tak lagi terdengar, ditelan suara hujan yang kembali turun. Latihan Balanse Madam itu terpaksa dihentikan.
“Dulu, sebelum orang memutar musik dari organ, kami punya pemusik sendiri,” kata Tawanto sambil meluruskan letak pecinya. Peci hitam yang dikenakannya memiliki motif yang khas, persis seperti peci yang dikenakan kepala suku Minangkabau di dataran tinggi. Namun layaknya seni-seni tradisi yang lain, kata maestro Balanse Madam itu, para pemusik itu sudah banyak yang mati dan tidak ada lagi yang meneruskan kesenian mereka. Posisi mereka digeser oleh organ tunggal dan sekarang digantikan flashdisk. “Menari Balanse Madam tentu lebih nikmat dengan para pemusik itu,” ujar Tawanto pada Selasa malam 7 September 2021.

Berbagai literatur menyebut Balanse Madam merupakan warisan budaya Portugis yang dibawa dalam ekspedisi ekonomi ke Padang pada abad ke-16. Kala itu para pekerja dan buruh yang didatangkan langsung dari Pulau Nias ikut terlibat dalam perniagaan rempah berskala global itu. Mereka sudah menetap di daerah pesisir pantai, terutama di kawasan muara, Padang. Orang-orang Nias ini dipekerjakan di pelabuhan dan juga pada kapal-kapal Portugis. Merekalah yang menyaksikan nyonya-nyonya dan tuan-tuan Portugis menghelat pesta-pesta dansa berpasangan. Dan kemudian melalui sebuah interaksi yang panjang antara Portugis sebagai tuan dan warga Nias sebagai pekerja maka terciptalah tarian Balanse Madam.
Portugis, sama seperti bangsa Eropa lainnya, sampai di Sumatera dalam ekspedisi besar pencarian sumber-sumber rempah. Usai melewati perseteruan panjang dan berdarah menghadapi seterunya Spanyol, Portugis sepakat berdamai. Pada 1494, lewat perjanjian Tordesillas, keduanya setuju membagi dua wilayah pencarian rempah dunia. Spanyol di sisi barat dan Portugis pada bagian timur. Mereka membagi dunia seperti memotong sebuah apel. Namun perjanjian damai itu ternyata tidak menyelesaikan masalah tentang siapa yang bisa berkuasa atas Kepulauan Rempah.
Tak mau lama terikat dengan perjanjian itu, Portugis terus melakukan ekspedisi ke pusat maritim Asia. Hingga puncaknya, pada 1511 Portugis membawa armada besar untuk menundukkan Malaka yang merupakan pelabuhan terkaya di Timur. Pada kurun waktu yang sama dalam perjalanan menuju Malaka, orang-orang Portugis melakukan kontak pertama dengan masyarakat Pulau Sumatera. Setelah mereka mengusai Malaka, kontak dengan Sumatera semakin erat. Anthony Reid dalam Sumatera Tempo Doeloe dari Marcopolo sampai Tan Malaka menyebut dalam rentang waktu 1550-1940 Sumatera memasok setengah dari jumlah persediaan lada yang dibutuhkan dunia. Saat ekspedisi besar pencarian rempah itulah orang-orang Portugis membawa tarian Balanse Madam ke Padang.



“Jika dibandingkan dengan Inggris atau Belanda yang lebih lama menetap di Padang, Portugis bisa disebut memiliki pola yang berbeda,” kata Anatona Gulo, sejarawan dan pengajar di Fakultas Sejarah Universitas Andalas. Anatona mengatakan Ketika berada di Padang, Portugis tidak membangun benteng seperti yang dilakukan Belanda. Orang Portugis memilih untuk tinggal di sekitar pelabuhan. Kondisi ini memungkinkan mereka berbaur dan menjalin hubungan lebih dekat dengan warga lokal. Dalam interaksi inilah, kata Anatona, tarian Balanse Madam ini diajarakan atau diwariskan kepada warga Padang di masa itu yang terdiri dari berbagai suku, termasuk Nias, Minangkabau, Tionghoa dan lainnya.
Anatona mengatakan perpaduan budaya barat dan nilai-nilai timur dalam kehidupan warga Padang itulah membuat tarian Balanse Madam bisa bertahan selama ratusan tahun dan tetap lestari hingga kini. Dalam perkembangannya Balanse Madam kemudian dijadikan tradisi rantau oleh Masyarakat Nias di Padang. “Balanse Madam terus berkembang dan ditradisikan dalam masyarakat adat Nias. Tari ini menjadi sebuah prestasi orang Nias di perantauan yang hanya ada di Padang,” ujar Anaota.
Padang di masa lalu merupakan salah satu lumbung penting perniagaan lada di Sumatera. Namun, Portugis tidak sempat menikmati kejayaan lada di Padang. Masa gemilang lada itu baru tercapai di bawah tangan Belanda, bangsa yang datang terlambat dalam lomba pencarian rempah, tapi muncul dengan modal yang sangat berlimpah. Setelah berhasil menundukkan kekuasan agen-agen dagang Aceh di Padang, Belanda berhasil menguasai distribusi rempah. Pada 1690 panglima raja di Padang yang disponsori Belanda menerbitkan larangan menanam kapas dan mewajibkan para petani mengganti seluruh tanaman dengan lada. Sehingga pada 1780-an daerah di dekat Padang, Pauh, dan Koto Tangah telah dipenuhi tanaman lada. Hanya emas dan kain tenun dari pedalaman Minangkabau, komoditas yang bisa digunakan untuk menukar lada. Portugis memang angkat kaki lebih cepat, namun mereka meninggalkan sebuah dansa yang terus hidup hingga hari ini.
“Banyak berpikir Balanse Madam ini tarian Nias. Padahal Balanse ini Padang yang punya,” Tawanto menyambung ceritanya. Dari sejarah lisan yang dituturkan tetua Nias sebelumnya, kata Tawanto lagi, Balanse Madam tidak hanya dikembangkan oleh masyarakat Nias. Orang Minangkabau, Tionghoa, dan India yang juga telah menetap di Padang turut punya andil dalam perkembangan dansa Portugis itu. “Empat suku yang berbeda itulah yang pada masa awal menarikan tarian Portugis ini. Makanya Balanse Madam dipenuhi beragam unsur. Musiknya gamat, pakai biola dan akordeon, lagunya bersyair Minang. Tariannya dipandu menggunakan bahasa Portugis yang bahkan kami sendiri tidak tahu apa artinya,” kata Tawanto.

Tawanto telah bergumul dengan Balanse Madam hampir sepanjang hidupnya. Sekitar 1960-an, saat masih duduk dibangku Sekolah Rakyat, Tawanto diminta menari sebagai madam oleh orang kampungnya. Lantas dia berdandan seperti wanita dan ikut menarikan Balanse Madam. Hakikatnya Balanse Madam merupakan tarian berpasangan. Ketika itu, kata Tawanto mengenang masa kecilnya, tidak banyak wanita yang bisa ikut Balanse Madam. Secara adat, hanya wanita yang telah bersuami yang boleh ikut menari. Itupun jika sang suami memberikan izin. Terlebih lagi, orang yang saling berkerabat juga tidak boleh menari dalam satu kelompok. “Meski hampir seluruh wanita di kampung ini bisa menari, tapi cukup sulit untuk mencari Tuan dan Madam yang pas untuk bisa tampil. Jadilah saya sebagai Madam,” tutur Tawanto sambil terkekeh.
Layaknya perniagaan rempah, Balanse Madam juga mengalami pasang surut. Tarian ini dulunya ditampilkan pada pesta dan acara-acara adat. Kondisi ekonomi masyarakat sangat berpengaruh pada keberlangsungan Balanse Madam. Tawanto masih ingat betul ketika orang-orang di kampungnya menikmati puncak kejayaan cengkeh pada era 1980-an. Saat itu, hampir setiap bukit-bukit di sekitar kawasan pantai Padang hijau oleh pohon cengkeh. Harga cengkeh yang tinggi ikut mendorong ekonomi masyarakat. Pesta-pesta digelar secara akbar. Pernikahan, sunatan anak, apa pun perhelatannya, kata Tawanto, digelar pesta besar dan Balanse Madam selalu ditampilkan dari malam hingga baru tuntas saat mantahari muncul di sisi timur. “Bukit Palinggam, Bukit Data, Bukit Lantik, Bukit Air Manis Gunung Padang semuanya di penuhi cengkeh. Namun ketika cengkeh mulai mati, Balanse juga terancam nasib yang sama,” ujar Tawanto.
Robertus Waohi kembali menghidupkan Balance Madam di Kampung Sudut, Seberang Palinggam setelah vakum cukup lama. Pada 2018 bersama sejumlah warga lain, dia membentuk kelompok Balanse yang mereka namakan Rancak Basamo. Sebuah idiom dalam bahasa Minangkabau yang bisa berarti lebih baik bersama. Menurut Robertus, yang berperan sebagai Commander, juru kendali pada tari Balanse Madam, Rancak Basamo juga bisa berarti sebuah pintu yang terbuka. Artinya kelompok Balanse ini membuka kesempatan kepada siapa saja yang ingin bergabung. “Tak peduli Nias atau Minang, Tiongho atau keturunan India, selama datang dengan niat baik, siapa saja akan diterima,” katanya.

Robertus bersama kelompoknya melakukan sejumlah terobosan pada praktek Balanse Madam. Salah satunya, melonggarkan sejumlah aturan. Anak-anak muda yang ingin belajar Balanse Madam, diterima dan ikut berlatih, namun tetap harus dengan izin orang tua. Selain itu kelompok Balanse Madam “Rancak Basamo” akan tampil dalam acara dan pesta dalam skala apapun. Apakah itu festival budaya nasional atau sekadar syukuran sunatan di ujung kampung. Roberstus mengatakan itu perlu dilakukan sebagai salah satu upaya agar Balanse Madam bisa terus bertahan melalui perubahan zaman. “Kita harus terus beradaptasi agar kesenian ini tidak punah,” tutur Robertus.
Lada kini tidak lagi sepopuler dulu. Portugis sudah berabad-abad lalu mengepak koper mereka dan tak pernah kembali lagi. Tapi di Padang, Balanse Madam, dansa yang mereka tinggalkan, terus ditarikan dari satu pesta ke pesta lainnya. Dari pesta pernikahan, pesta-pesta yang digelar kantor pemerintahan, hingga pesta dinas kebudayaan. Hanya dengan begitulah Balanse Madam mampu bertahan dari masa ke masa. Tapi agaknya ada angin segar yang berhembus bagi para pegiat Balanse Madam. Tarian yang berakar dari budaya Portugis itu telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh pemerintah. Tawanto yang telah dinobatkan sebagai Maestro Balanse Madam mengaku, perubahan status itu tak akan berdampak banyak. “Tapi harapan mesti terus dipelihara, toh. Kabar baiknya, makin banyak yang muda mau ikut Balanse,” ujar Tawanto sambil meluruskan letak pecinya.