Pergumulan ingatan dan kenangan acap kali termanifestasi dalam rupa yang rumit. Berawal dari ingatan-ingatan individu, bermuara pada memori kolektif. Ya, pada kelompok-kelompok masyarakat, ingatan dan kenangan mewujud sebagai memori kolektif. Dengan segenap kompleksitasnya, memori ini merekam aneka ragam pengalaman, perangkat pengetahuan, bahkan rupa-rupa emosi yang penuh dengan dialektika.
Menyoal ingatan individu dan narasi memori kolektif, Emile Durkheim, Sosiolog berkebangsaan Prancis, memiliki gagasan penting tentang kolektivitas, tentang bagaimana keduanya saling terkait. Bahwa, makna dan simbol memang berbasis pada individu, namun individu yang saling berinteraksi akhirnya dapat melahirkan dan memaknai simbol-simbol satu sama lain. Melalui perantara ingatan, simbol dan maknanya pun dapat diwariskan, berkait kelindan, melintasi generasi. Pertautan simbol dan makna yang dijembatani ingatan inilah yang akhirnya dapat bertransformasi apik menjadi memori-memori kolektif, memori yang sering kali dapat kita inderawi dalam bentuk yang beraneka rupa.
Salah satu simbol yang terus diramu dan dimaknai di dalam ekosistem bermasyarakat adalah tarian. Tarian, dalam banyak bentuknya menjadi instrumen simbolik yang menegaskan keterikatan dan keterhubungan sosial. Kehadirannya, dalam banyak masa dan situasi sering kali menjadi bagian dari identitas kultural yang mengikuti individu, hingga dimiliki oleh masyarakat. Di Nusantara, banyak gerak, irama, ritme, hingga busana dalam suatu tarian kerap kali lahir dari fragmen ingatan yang panjang, namun layak untuk ditelusuri kembali.
Menengok ke belakang, di kisaran abad ke-15 hingga ke-16, saat bangsa Portugis memulai penjelajahannya di Nusantara, jalur pesisir pantai barat Sumatera juga jadi wilayah persinggahan. Tingginya arus pengiriman rempah ke Eropa yang melalui jalur ini membuatnya sebagai salah satu arena perdagangan yang ramai nan sibuk. Pesisir barat Pantai Sumatera pun menarik dan menjadi arena perjumpaan beragam kelompok masyarakat. Di Padang misalnya, di periode yang tidak berselisih lama, orang-orang Nias pun mulai berdatangan.



Dalam banyak narasi sejarah, orang-orang Nias tercatat sebagai pekerja, bawahan, buruh, pembantu orang-orang Portugis yang datang ke Nusantara. Meski diwarnai dengan relasi kuasa yang sering kali timpang, namun interaksi sosial dan kontak budaya diantara kedua kelompok tersebut terbangun intim. Keintiman ini terlihat dalam internalisasi beragam aktivitas kebiasaan orang-orang Portugis ke dalam praktik kultural masyarakat Nias di Padang. Tentu, situasi ini berawal dari pengalaman individu per individu.
Sebagai perantau, orang-orang Nias berjarak secara geografis dengan tanah asal mereka. Adaptasi pun mewarnai narasi sosiokultural masyarakat Nias agar tetap menjadi Nias di tanah yang jauh dari Nias. Pada banyak pencatatan tentang masa lalu, bangsa Portugis yang mulanya datang berdagang, juga membawa serta atmosfer berkesenian ala bangsa Eropa ke Nusantara. Di Padang, masyarakat Nias terpapar cukup sering dengan ritme berkesenian orang-orang Portugis, melalui tari, ritme musik, dan produk kesenian lainnya.
Dansa merupakan salah satu aktivitas yang paling sering dipertontonkan oleh orang-orang Portugis, ya selayaknya orang-orang Eropa pada umumnya. Dansa merupakan aktivitas berkesenian yang populer dan menggembirakan. Dari aktivitas inilah, pengalaman yang kerap diinderawi menyatu dengan imaji kultural masyarakat Nias, hingga melahirkan formula seni gerak yang baru untuk para perantau Nias di Padang, tari Balanse Madam. Melalui kesepakatan bersama, tarian ini akhirnya menjadi refleksi wajah masyarakat Nias di Padang yang terus terwariskan hingga sekarang. Balanse Madam juga telah diatur menurut adat istiadat agar keberlangsungannya dapat terus terjaga. Hingga hari ini, tarian Balanse Madam menjadi bagian yang merefleksikan kompleksnya narasi sosiokultural yang dijalani oleh masyarakat Nias di perantauan.
Dalam perjalanannya, masyarakat Nias pun bernegosiasi dengan kondisi di tanah rantau. Sebagai suatu konsep, negosiasi bisa menghasilkan keberdayaan, namun juga sebaliknya, mampu membuat kelompok tertentu semakin terpinggirkan. Pada masyarakat Nias, alih-alih menyebutnya terpinggirkan, mereka justru menunjukkan keberdayaan. Hal ini dapat tercermin dari adanya kesadaran kultural untuk menyepakati bersama tari Balanse Madam sebagai bagian dari identitas komunal mereka, sebagai orang Nias yang jauh dari tanah Nias. Gayung bersambut, masyarakat luas pun terbuka untuk menerima dan mengakui bahwa Balanse Madam merupakan produk kesenian yang kehadirannya senantiasa diasosiasikan dengan masyarakat Nias.

Kehadiran tari Balanse Madam adalah salah satu bentuk representasi dari simbol dan makna yang menstimulusi lahirnya memori-memori kolektif. Representasi ini dihadirkan dalam beragam rupa suasana, misalnya di prosesi keadatan. Pada prosesi adat, acap kali tari Balanse Madam dihadirkan sebagai penutup. Dalam beberapa penggambaran, Balanse Madam dianggap menjadi bentuk rasa syukur. Hal ini berkorelasi dengan situasi yang sering kali menunjukkan bahwa dalam perhelatan adat ada konflik atau persoalan rumit yang diselesaikan. Maka, penutup dengan tarian adalah ekspresi berkesenian yang menggembirakan sekaligus melegakan. Pada suasana yang lain, dalam upacara pernikahan misalnya, Balanse Madam adalah simbolisasi dari kehidupan berumah tangga yang semestinya menciptakan pasangan yang bisa saling menjaga dan menghormati satu sama lain. Hal ini dapat terlihat dari formasi gerak yang menuntun para penari untuk senantiasa berpasang-pasangan.
Hingga hari ini, setiap bentuk, cara, syarat, waktu, dan kegunaan tari Balanse Madam diinterpretasikan dalam berbagai pemaknaan. Namun dalam konteks yang lebih luas, Balanse Madam dilihat sebagai medium untuk menegaskan eksistensi, merefleksikan persatuan dan kesatuan, serta mengindahkan penghormatan satu sama lain. Dalam hal ini, eksistensi berkenaan dengan pengakuan akan status pernikahan masing-masing penari. Sementara itu, perihal persatuan dan kesatuan dapat terlihat dari pola formasi yang meleburkan setiap struktur masyarakat yang terlibat. Peleburan ini memicu terjalinnya interaksi yang positif, komunikasi yang sehat guna mendorong lahirnya integrasi sosial, hingga bisa saling mengenal dan saling menghormati antar sesama.
Pada mulanya, penari Balanse Madam adalah orang-orang yang telah menikah, olehnya setiap orang yang terlibat sudah harus mendapat izin dari pasangan masing-masing. Namun, mereka yang terlibat juga tidak boleh memiliki hubungan kekerabatan. Menariknya, apabila dansa umumnya memiliki gerakan-gerakan yang memungkinkan untuk bersentuhan kulit secara langsung di antara para penari, maka pada Balanse Madam, hal ini justru hal yang dihindari. Setiap kulit penari (laki-laki dengan perempuan) tidak dibenarkan untuk bersentuhan secara langsung. Hari ini, aturan tersebut diterapkan dengan penggunaan sapu tangan yang dikenakan oleh penari Perempuan.
Namun, adaptasi tentu adalah pilihan rasional. Masyarakat Nias di Padang memilih untuk melonggarkan beberapa aturan dalam menampilkan Balanse Madam dengan pertimbangan keberlanjutan. Bila sebelumnya, yang menarikan Balanse Madam adalah orang-orang yang sudah menikah dan sering kali sudah berusia tua, maka hari ini pun laki-laki dan perempuan yang belum menikah juga sudah dibenarkan untuk menarikan tarian ini. Alih-alih pasrah pada eliminasi semesta, mereka memilih untuk berkompromi seluwes mungkin.

Selain perubahan pada aspek penarinya, Balanse Madam dibiarkan tumbuh meskipun terdapat banyak perubahan aba-aba sejak dulu, hingga hari ini. Lagi-lagi, karena penutur aba-aba (commander) dulunya adalah orang-orang tua yang sering kali tidak sempat mewariskan pengetahuannya secara penuh kepada generasi muda setelahnya. Hal yang sama juga dialami pada penggunaan alat musik biola, salah satu alat musik yang berperan penting mengiringi para penari. Seiring berjalannya waktu, terdapat perbedaan irama yang dihasilkan dari alat musik ini. Posisi biola sebagai instrumen pengiring yang amat penting juga tidak lagi sama dengan dulu kala. Dalam salah satu pencatatan ilmiah, hal ini ditelusuri sebagai efek domino dari adanya jarak dalam proses alih generasi, sehingga atas nama keberlanjutan, perubahan pun dimaklumkan. Selain aspek penari dan aba-abanya, perubahan lain dapat ditelusuri mulai dari pola lantai, bentuk gerakan, irama musik iringan, hingga alat musik iringannya itu sendiri.
Balanse Madam pernah terekam sebagai sebuah pertunjukan yang sakral yang mengiringi sistem sosial kemasyarakatan perantau Nias di Padang. Namun kini, tarian ini sudah mendapat banyak sentuhan kreatif dan juga telah melibatkan banyak pertimbangan, termasuk pertimbangan ekonomi. Tentu, tidak ada yang salah dalam hal ini. Bagaimanapun bentuknya, Balanse Madam adalah bagian dari memori kolektif masyarakat Nias di Padang yang terus diupayakan eksistensinya. Tarian ini menjadi ruang sosialisasi untuk terus merawat ingatan akan identitas dan memastikan agar beragam nilai yang diyakini dan disepakati bersama sebagai kelompok masyarakat dapat tetap lestari. Sekalipun, banyak hal yang melingkupinya telah berubah.
Tarian Balanse Madam akhirnya mewujud sebagai memori kolektif yang merekam dan menyajikan ingatan orang-orang Nias di Padang kala berjumpa dengan bangsa Portugis di masa lampau. Ya, sering kali, kelompok-kelompok masyarakat memang punya cara-cara khas untuk menerima sejarah panjang interaksi-untuk tidak menyebutnya sebagai penjajahan-mereka dengan bangsa asing yang datang, namun sembari tetap memeluk tradisi. Dalam konteks ini, bukan hanya masyarakat Nias di Padang yang punya cara sendiri dalam mengeksplorasi imaji Eropa. Di tanah Minahasa, misalnya. Kaum muda-mudi di Sulawesi Utara ini akrab dengan tari katrili. Serupa dengan Balanse Madam, tari ini adalah dansa ala orang Minahasa. Ia diadopsi dari kebiasaan-kebiasaan orang Portugis saat merayakan pencapaian mereka ketika berdagang di tanah Minahasa. Saat ini, tari Katrili menjadi tarian yang sering dipentaskan di berbagai acara.
Sementara itu, di Ambon ada tari Lenso. Tari ini adalah gerak estetik yang juga lahir dari perjumpaan orang-orang Ambon dahulu kala dengan bangsa Portugis dan Belanda. Lenso, dalam Bahasa Portugis berarti sapu tangan, adalah tarian yang ditampilkan di beragam suasana suka cita, seperti penyambutan tamu, pernikahan, panen raya, dan suasana yang lekat dengan kegembiraan lainnya. Dari suasana ke suasana, tentu saja masih ada banyak lagi narasi lain yang bisa ditelusuri.

Hari ini, kreasi berkesenian yang kita nikmati bukan hanya pergumulan medan kreativitas, namun juga perkawinan antara ingatan masa lalu yang seturut sejalan, mengantar, dan membentuk identitas komunal. Sebagai memori kolektif, memori ini menghimpun cara kelompok masyarakat tertentu untuk berdamai dengan masa lalu, baik sebagai kelompok yang pernah dijajah, ataupun sebagai orang yang pernah hidup berdampingan dengan orang-orang Eropa dalam beragam suasana. Selain tentang pemahaman akan masa lalu, memori kolektif juga adalah tentang penerimaan akan hari ini, dan upaya penciptaan akan masa depan yang paripurna. Olehnya, menyaksikan Balanse Madam sejatinya juga adalah upaya untuk melihat dan memahami bagaimana semesta orang-orang Nias bekerja dengan cara-cara yang sederhana dan menggembirakan.