
Kehadiran etnis-etnis di Kota Padang sudah sejak berpuluh bahkan ratusan tahun lalu. Salah satunya Etnis Nias. Etnis yang menurut Anatona dalam bukunya Sejarah Perbudakan dan Perdagangan Budak di Pulau Nias Abad ke-18 hingga 19, sulit untuk memastikan angka tahun kedatangan mereka ke Padang. Lebih lanjut, Anatona melalui bukunya yang terbit pada tahun 2018 itu berpendapat bahwa keberadaan mereka telah berlangsung sejak kompeni VOC.
Saya melihat penyebutan VOC yang digunakan Anatona hanya untuk merujuk pada garis waktu, atau periodesasi untuk lebih jelas dalam pengelompokan kurun waktu. Kemudian dari sumber lain yang lebih banyak menjelaskan alasan mereka sampai ke Padang adalah untuk bekerja. Bekerja di kapal-kapal Portugis, berinduk semang kepada orang Cina dan lain sebagainya. Sebab kota padang masa itu menjadi salah satu bandar dagang yang banyak disinggahi oleh bangsa-bangsa luar.
Selain itu, Indrayuda dalam penelitiannya berjudul Makna dan Fungsi Tari Balanse Madam Pada Masyarakat Suku Nias di Seberang Palinggam Kota Padang menjelaskan bahwa dengan datangnya bangsa Portugis, menjadikan warga suku Nias Kota Padang sebagai buruh di gudang-gudang, kapal-kapal dan pelabuhan, sebagian lain bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Penjelasan ini juga diperkuat oleh penyampaian Tawanto Karim dalam film dokumenter berjudul Muaro Batang Arau yang disutradari oleh Farhan Siddiq dengan tahun produksi 2022.
Akibatnya persinggungan Etnis Nias dengan bangsa-bangsa luar khususnya Portugis, mengakibatkan terjadinya sebuah akulturasi budaya. Hasilnya terciptalah sebuah tari. Tari Balanse Madam. Tarian yang menurut Indrayuda tercipta dari pengalaman estetis yang dialami oleh masyarakat Nias, karena sering menyaksikan kesenian orang Portugis yakni dansa.
Hal itu jugalah yang membuat kata Balanse Madam diambil dari bahasa Portugis, "lanse" yang berarti "dansa", sedangkan "madam" berarti "nyonya". Jika diartikan menjadi "badansa nyonya". Begitulah penjelasan lebih lanjut Maestro Tari Balanse Madam, Tawanto Karim dalam film yang sudah mendapat apresiasi sebagai Best Documentary Short Film, Golden Lion International Film Festival (GLIFF), tahun 2023 kemaren. Meskipun demikian ada juga beberapa catatan—misalnya penelitian Indrayuda—yang menyebutkan bahwa kata “balanse” yang berarti “harmonis” dan “madam” yang berarti “nyonya”.
Sementara jika kita lakukan pencarian kata “lanse” atau “balanse” dalam bahasa Portugis tidak ditemukan dan hanya merujuk kepada “balanse” dari bahasa Cebuano atau “balance” dari bahasa Inggris yang berarti “keseimbangan”. Tapi begitulah sebuah sejarah sebuah tradisi, ia memiliki kekayaan tersendiri. Yang lebih penting tentu bukan soal darimana kata balanse itu lahir atau diadopsi, tetapi adalah bagaimana menjadikan warisan tradisi yang sudah ada agar tetap lestari dan memiliki generasi penerus, bukan? Apakah masih disebut kekayaan budaya jika sudah tidak lagi ada nantinya?



Berbicara mengenai tradisi, apakah benar Tari Balanse Madam merupakan sebuah tradisi? Pasalnya, kehadiran Tari Balanse Madam dapat dikatakan menarik, kenapa? Karena sebagai sebuah produk akulturasi, tari ini lahir dari akulturasi yang bukan dengan budaya masyarakat pribumi yang hidup di Padang. Melainkan dengan budaya dari etnis yang juga ‘singgah’ di Padang. Tari ini juga lahir di tanah rantau dan bukan di wilayah asal orang Nias. Hal itu jugalah yang membuat Indrayuda mengatakan bahwa tari Balanse Madam hanya khusus menjadi milik orang-orang Nias yang telah menjadi warga Kota Padang, dan tarian tersebut tidak dapat dijurnpai di Pulau Nias itu sendiri. Komunitas pendukung tari ini adalah masyarakat Nias yang berada di Seberang Palinggam, sebelum akhirnya masyarakat Nias berangsur-angsur menyebar di daerah lain Kota Padang.
Produk kebudayaan dari sebuah etnis tentu akan mengikuti adat kebiasaan masyarakatnya berdasarkan kebutuhan untuk apa produk itu diciptakan. Dalam bidang seni, produk-produk tersebut lebih akrab kita sebut dengan seni tradisi. Seni tradisi yang kita kenal saat ini—meskipun tidak semua—dahulunya cenderung hadir dalam atau untuk ritual ataupun prosesi-prosesi adat tertentu. Namun dewasa ini, banyak seni tradisi yang sudah melepaskan diri atau tidak terikat lagi dengan ritual atau prosesi yang melekat padanya. Biasanya karena ritual atau prosesi tertentu sudah ditinggalkan oleh masyarakat penganutnya. Ada begitu banyak alasan kenapa ditinggalkan, entah sudah tidak sesuai dengan keyakinan yang dianut oleh masyarakat pemiliknya, persoalan biaya, regenerasi, dan segala macam kemungkinan lainnya. Tak terkecuali Tari Balanse Madam.
Pada awal kemunculannya, Tari Balanse Madam adalah tari yang dimainkan saat acara adat, pesta pernikahan misalnya atau pesta adat lainnya. Tarian dilakukan harus atas seizin tetua kampung. Dua orang Sisindo—laki-laki dan perempuan—akan berjalan ke arah kerumunan. Mereka bertugas mencari penari. Janang laki-laki mencari empat penari laki-laki, setelah itu barulah janang perempuan mencarikan penari perempuan sebagai pasangan. Dengan catatan, tidak ada hubungan keluarga antara masing-masing penari dan serta juga harus seiizin suami atau istri masing-masing penari. Sebab penari tari Balanse Madam syaratnya haruslah yang sudah berkeluarga.
Setelah penari lengkap maka pertunjukan akan dipimpin oleh seorang komander. Komander bertugas memberi aba-aba. Aba-aba yang dipakai menggunakan bahasa Portugis, yang diterima secara lisan secara turun temurun dari pelaku sebelumnya. Misalnya Oplasekare, rekturne, balanse madam, dan aba-aba lainnya. Sepanjang jalannya pertunjukan, komander akan terus memberikan aba-aba, kemudian penari akan berhenti, berputar, atau mengakhiri pertunjukan. Setelah pertunjukan selesai masing-masing penari akan kembali ke tempat masing-masing.

Meskipun tarian ini dibawakan berpasang-pasangan yang bukan oleh suami-istri. Tetapi batas antara keduanya harus tetap ada, yaitu sapu tangan. Penari akan saling berpengangan pada saputangan, tidak langsung bersentuhan skin to skin. Dalam hemat saya, sebuah tradisi muncul dengan kematangan yang sudah diperhitungkan oleh para penciptanya. Tak hanya dalam seni, dalam hal lain juga begitu, misalnya dalam ketahanan pangan, pengolahan lahan, atau menjaga alam agar tetap ‘balance’ (seimbang). Maka dari itu penggunaan sapu tangan pada tarian ini, dapat diartikan sebagai cara menghormati pasangan yang memberi izin. Izin yang diberikan tidak sepenuhnya. Tetap ada batasan. Selain itu juga alasan penggunaan sapu tangan tersebut karena sudah masukknya pengaruh agama Islam.
Disamping itu, Indrayuda menyebut Tari Balanse Madam bagi orang Nias merupakan simbol pergaulan. Melalui tari ini anggota masyarakat Nias dapat bergaul satu sama lainnya. Ia melihat bahwa itu terwujud dalam pola gerak yang dilakukan yaitu sebentuk pola pergaulan, dimana terdapatnya suatu komunikasi gerak yang responsif dengan dukungan ekspresi di antara masing-masing pasangan penari. Dalam bentuk disain lantai yang melingkar dan empat persegi.
Karena tarian ini sebagai tari pergaulan, maka tidak heran bahwasanya penari dipilih dari tamu undangan yang hadir saat pesta pernikahan berlangsung. Disinilah point menariknya, jika demikian sebagai sebuah pertunjukan tentu tari ini menganggap setiap tamu undangan (baca penonton) memiliki kemampuan dan peluang yang sama untuk membawakan tari sebagai sebuah pertunjukan.
Metode pertunjukan yang melibatkan penonton dalam sebuah seni tradisi adalah hal yang lazim ditemukan. Misalnya dalam tradisi Minangkabau, basaluang, penonton juga berperan. Peran penonton yang menanggapi, ikut menentukan alur atau ritme dari pertunjukan saluang melalui respon berupa sorakan atau bahkan permintaan pantun. Namun pada tari balanse madam, penonton tidak lagi ditempatkan pada posisi responden, melainkan sebagai subjek utama, pelaku/penari.
Pemilihan penari dari penonton tersebut, dalam hemat saya, salah satu bentuk adopsi dari tarian dansa. Siapa saja bisa turun ke lantai dansa dengan berpasangan, tetapi dalam balanse madam telah dilakukan modifikasi sesuai kebutuhan dan aturan adat istiadat.


Tak ada aturan khusus untuk penari, selain aturan adat yang berlaku, seperti yang sudah disebutkan di atas tadi, bahwa hanya yang sudah menikahlah yang boleh menari. Hanya itu. Tari ini juga sangat flesibel untuk ruang pertunjukan, ia dapat dipertunjukkan di dalam atau luar ruangan.
Namun hari ini, metode pertunjukan Tari Balanse Madam yang demikian tentu tidak akan dijumpai lagi. Saat ini Tari Balanse Madam telah mengalami penyesuaian. Ia telah menjelma sebagai sebuah tari pertunjukan. Sama halnya dengan kesenian-kesenian tradisi yang lainnya. Ia telah meninggalkan cangkang lama dan bermetamorfosis dalam bentuk penyajian baru. Fungsi hiburan lebih dikedepankan.
Tawanto Karim menjelaskan bahwa sejak tahun 1950-an sudah mulai bergeser ruang penyajiannya demi kebutuhan undangan unctuk acara-acara hiburan. Pergeseran untuk memenuhi undangan mengisi acara hiburan tentu memberi dampat pada tubuh tari itu sendiri. Salah satunya pada persoalan penari. Penari harus memeiliki syarat yang sudah berkeluarga. Disinilah kendala muncul, terutama persoalan penari perempuan, dan juga sempat muncul inisiatif untuk mendandani laki-laki seperti perempuan, tapi itu tidak mungkin. Maka atas kesepakatan disampaikanlah persoalan tersebut kepada kepala kampung bahwa tari diperbolehkan dimainkan oleh muda-mudi dengan catatan hanya untuk hiburan saja. Akhirnya disetujui. Dan barulah pada tahun 1990-an Tawanto mengadakan latihan khusus untuk anak-anak muda dengan tetap mempertahankan tatacara tari terdahulu, baik etika atau estetika.
Perubahan tersebut dalam hemat saya untuk kebutuhan agar tari ini bisa tetap bertahan ditengah gempuran hiburan yang sangat marak pada pesta-pesta khususnya pernikahan. Di satu sisi meski terlihat mengalami kemunduran, tapi di sisi lain justru mendatangkan sebuah kemujuran. Bukankah mundur selangkah harus diambil untuk menang sekian jumlah? Misalnya ketika sudah berbentuk seni pertunjukan yang marak dijumpai saat ini, dalam bentuk komunitas atau sanggar, pihak-pihak luar akan mudah mengundang untuk sebuah pertunjukan. Selain mendatangkan nilai ekonomis, penyebaran penonton tari balanse madam juga semakin luas, tak terbatas etnis pendukungnya semata.

Tak hanya tari balanse madam, banyak seni tradisi yang mungkin mengalami hal serupa. Perubahan yang tidak dapat dilawan, melainkan harus disesuaikan. Ini adalah cara agar seni tradisi bisa bertahan saat ini? Tentu tidak sepenuhnya benar, sebab ruh seni tradisi muncul secara alamiah, tidak dapat dibuat-buat, atau bahkan dengan sengaja diciptakan. Tidak akan kita jumpai lagi tari balanse madam yang baju penarinya mungkin tidak seragam satu sama lain, gerak panari yang barangkali tidak selalu serentak, dan lain sebagainya. Bukankah yang dinamakan seni itu tidak melulu balance?
Tetapi hari ini, gejala itu akhirnya masuk juga ke tubuh Tari Balanse Madam. Penari-penari sudah dilatih dengan jadwal latihan perminggunya. Tidak lagi memakai konsep bahwa penari adalah tamu undangan, dan setiap tamu undangan dinilai memiliki kemampuan dan kesempatan yang sama untuk menari. Batasan antara penonton dan penari sekarang terlihat jelas, jauh sebelum pertunjukan berlangsung, penonton adalah penonton dan penari adalah penari. Tetapi dahulu batasan itu hanya terjadi saat pertunjukan tari balanse madam berlangsung.
Kebalikannya, dunia seni pertunjukan kontemporer dewasa ini justru ingin melebur batasan yang kaku antara penonton dan penampil tersebut. Pada dunia pertunjukan teater misalnya, sangat banyak metode ini dicoba, contohnya betapa banyak kita lihat pemain teater yang muncul dari arah penonton. Tentu tidak sesederhana itu kita bisa menaruhnya pada posisi dan fungsi yang sama dengan tari balanse madam. Paling tidak, ada kesamaan teknik muncul, pemain berasal dari arah yang bukan tempat pertunjukan (panggung) melainkan dari tempat pertunjukan dapat disaksikan (penonton). Sekali lagi, meski bukan sesederhana itu untuk mensejajarkan porsi dan fungsinya, tapi itu sering dijumpai, bahkan tak jarang pemain teater muncul justru saat pertunjukan sedang berlangsung. Ketika itu dinilai sebuah sesuatu yang baru dalam dunia pertunjukan, tari balanse madam sudah meninggalkannya. Saya jadi membayangkan, ketika tradisi ingin menyerap yang modern, tapi yang modern justru menyerap tradisi. Saling tarik menarik.
Perubahan-perubahan dari yang tradisi ke dalam bentuk seni pertunjukan sebetulnya bukanlah barang baru. Tidak hanya terjadi pada tari balanse madam, melainkan banyak sekali seni tradisi yang telah mengalaminya. Hampir keseluruhan mungkin. Pada kesenian Minang, randai misalnya, pertunjukan yang ditampilkan pada malam hari dengan durasi berjam-jam bahkan putus-sambung tiap malamnya, sekarang sudah bisa dikemas menjadi dua atau tiga jam pertunjukan. Tak jauh berbeda dengan randai, tradisi lisan Sijobang juga demikian, bahkan untuk Sijobang bisa dipertunjukkan dalam 15-20 menit saja. Meskipun ironi, yang harus dilihat dari contoh tersebut bukanlah persoalan berkurangnya durasi, melainkan dengan durasi yang demikian singkat kita tidak bisa berharap lebih, kita hanya menyaksikan seni tradisi hadir sebagai sebuah pertunjukan, dengan mengesampingkan aspek-aspek nilai, makna, bahkan filosofis yang dibawa karya tersebut. Bahkan tidak menutup kemungkinan bagian-bagian tertentu yang pokok dari seni itu justru tidak dipertunjukkan.

Begitulah setiap perubahan, ada yang dipertahankan ada yang mungkin dikesampingkan. Namun pada tari balanse madam ada perubahan yang disayangkan. Dimana penggunaan sapu tangan telah digantikan dengan sarung tangan. Dalam hemat saya kehadiran sapu tangan justru membawa estetika dan makna lebih jika dibandingkan dengan sarung tangan. Gestur penari jelas berbeda ketika menggunakan sapu tangan, respon dan kemampuan penari dalam menggunakan properti sapu tangan akan jauh berbeda dengan penggunaan sarung tangan. Tapi kita tentu selalu berharap lebih. Demi ketahanan barangkali itu musti dikesampingkan dan dibagian lain dipertahankan. Salah satu yang tetap dipertahankan yaitu identitas tari sebagai tari pergaulan.
Meskipun sudah menjadi seni pertunjukan yang memiliki fungsi hiburan, diundang ke sana-kemari, para penari atau kelompok Tari Balanse Madam dalam beberapa kesempatan tetap mengajak penonton untuk menari bersama-sama pada setiap kesempatan. Di samping itu yang tidak akan berubah atau menjadi ciri khas tari balanse madam adalah formasi. Tari Balanse Madam harus berhadap-hadapan dengan posisi persegi empat. Tarian ini dimulai dengan segi empat maka akan berakhir dengan segi empat. Menurut Tawanto selaku Maestro Tari Balanse Madam, empat segi itu melambang empat etnis yaitu Cina, Minang, India, dan Melayu.
Dari penelusuran saya yang pendek, saya menemukan bahwa Tari Balanse Madam belum banyak dijadikan dasar seni pertunjukan kontemporer. Padahal tari ini telah memiliki metode pertunjukan yang sangat terbuka, bahkan ketika ia mulai meninggalkan metode itu, dunia pertunjukan modern di Indonesia justru menggandrunginya secara tidak sengaja. Hal ini menandakan ada begitu banyak kemungkinan metode pertunjukan yang dapat diserap dari kesenian-kesenian tradisi kita.