Sungguhpun dia tahu, mungkin tidak mau untuk memainkan peran sebagai perempuan ketika itu. Usia yang masih belia membuatnya manut saja dengan ajakan sang ayah. Namun itulah titik awal pertulangan Tawanto Lawolo sampai menjadi Mastro Balanse Madam.
Siang itu 17 Agustus 1959, Tawanto diajak, Karim, ayahnya untuk ikut dalam pertunjukan Balanse Madam di Balai Desa Mato Air. Pertunjukan itu menjadi salah satu kesenian yang ditampilkan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Ketika itu setiap Desa pasti merayakan hari kemerdekaan dengan menampilkan kesenian.
Secara bergegas ayahnya mulai mendandani Tawanto. Kemudian ayah dan anak itu berjalan kaki menuju lokasi pertunjukan yang jaraknya sekitar tujuh kilometer. Mereka harus memutari buki di kawasan Gunung Padang untuk sampai ke lokasi pertunjukan.
Pertunjukan dimulai dengan aba-aba sang ayah dan permainan musik dari sang paman, Tawanto secara perlahan mulai masuk ke gelanggang pertunjukan. Walau berdandan sebagai perempuan, Tawanto sedikitpun tak gugup. Di saksikan secara beramai-ramai menjadi kebanggan tersendiri baginya.
Kenangan di peringatan 14 tahun Kemerdekaan Indonesia membuatnya terus menjadi penari Balanse Madam. Selain ayahnya, sang paman dari pihak ibunya juga menjadi figur penting yang mendidik Tawanto hingga menjadi maestro Balanse Madam.
“Tanpa ayah mungkin saya tidak tahu jati diri saya ini. Juga paman saya Luwu Bowo, mereka berdua seniman Balanse Madam sekaligus guru saya,” katanya.
Luwu Bowo dikenal sebagai sosok yang keras dalam mendidik, tidak segan-segan memarahi bahkan menggunakan rotan untuk meluruskan gerakan yang keliru. Ketegasan itu juga tercermin dalam sikapnya terhadap para pemain yang tidak serius.
Tawanto mulai mengikuti jejak Luwu Bowo sejak kelas 4 Sekolah Rakyat hingga tahun 2000. Setiap kali menghadapi masalah, ia selalu mencari nasihat dari pamannya. Luwu Bowo juga mengajarkan bagaimana menjadi seorang komandor dalam tarian, meskipun bahasa yang digunakan, yang mirip Portugis, sulit dipahami. Namun, dengan ketekunan dan metode belajar seperti mencatat, Tawanto akhirnya mampu menguasainya.
"Paman saya itu tegas, kalau tidak serius maka siap-siap saja menerima rotan," ucap Tawanto



Menurut Tawanto, latihan Balanse Madam dulu diadakan setiap malam Minggu, diikuti oleh puluhan hingga ratusan peserta. Mereka yang tidak tampil akan bergiliran, memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk belajar menjadi seorang komandan. Perjuangan Tawanto untuk menguasai dan melestarikan Balanse Madam, di bawah didikan keras Luwu Bowo. Pamannya, meskipun keras, telah menanamkan disiplin dan kecintaan yang mendalam pada tradisi ini, menjadikan Tawanto sebagai salah satu dari sedikit yang masih memegang warisan berharga tersebut.
Mendalami Balanse Madam juga mengantar Tawanto ke tanah leluhurnya. Sebagai keturunan Nias dirinya mencoba untuk mendatangi kerabat jauhnya di Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, Sumatera Utara. Ketika itu dia diutus untuk mengikuti seminar di Sumatra Utara selama tiga hari, menggantikan Kepala UDD PMI Padang. Usai seminar dia tak langsung ke Padang namun memesan kapal ke Gunung Sitoli.
Pertemuan itu membuat Tawanto banyak belajar dan baru mengetahui jika adat Nias Padang sangat berbeda dengan tanah leluhurnya. Bahkan, Balanse Madam juga tidak ada di sana. Barulah diketahui bahwa Tarian Balanse Madam ini merupakan hasil kreasi dari kesenian Portugis yang datang ke Padang.
Balanse Madam juga membawa Tawanto bertemu dengan pendamping hidupnya. Dirinya menikahi seorang penari bernama Salmi Indriani Harefa yang merupakan keturunan Nias Padang. Pasangan ini bertemu di gelanggang Tari, sebab Salmi juga penari Balanse Madam.
Sebelumnya. Tawanto sudah pernah menikah dengan Rohati pada usia 16 tahun. Mereka berdua tak pernah bertemu namun dijodohkan oleh orang tuanya. Dia ingat pada usia 17 tahun anak pertamanya lahir. Namun, pernikahan pertamanya dengan Rohati tidak berlangsung lama. Setelah beberapa tahun bersama, mereka bercerai pada tahun 1969, dan dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang putra bernama Armanto.
Setelah bercerai barulah, Tawanto bertemu dengan Salmi dan memutuskan mualaf. Pernikahan ini membawa kebahagiaan baru dan menghasilkan empat orang anak yang menjadi kebanggaannya. Anak pertama mereka, Titin Gustu Salwanti..
Anak kedua, Tomi Melki Veronika, dikenal sebagai pribadi yang gigih dan penuh semangat, mewarisi darah seni dari ayahnya. Anak ketiga mereka, Tila Yeni Yarni Silvita, membawa. Sedangkan anak bungsu, Trivirman, adalah harapan keluarga yang mewarisi kecintaan Tawanto terhadap seni dan budaya.
Lahirnya 4 orang anak tersebut menjadi semangat bagi Tawanto untuk mengembangkan Balanse Madam. Dirinya terus berkesenian dan mengembangkan tarian tersebut. Semenjak pamannya Luwu Bowo meninggal, Tawanto menjadi pewarisnya.

Tawanto bersama Salmi terus membawa Balanse Madam untuk lebih dikenal masyarakat. Sekitar 1990, Balanse Madam mulai bergejolak di Kota Padang. Grup-grup Balanse Madam mulai tumbuh dan berkembang. Tarian ini memukau penonton dengan empat penari yang berpasangan, dipandu oleh seorang komandor. Balanse Madam tidak hanya menjadi kesenian sakral, namun sudah umum, bahkan menjadi identitas Kota Padang.
Selain dalam peringatan hari besar, Balanse Madam juga diminati khusus oleh penonton televisi. Sebab setiap minggu di kisaran 1990 an itu pasti selalu ada jadwal tampil di Televisi Republik Indonesia (TVRI) Sumatera Barat. Sehingga Balanse Madam tambah dikenal oleh khalayak Indonesia.
Pasca reformasi 1998, memasuki awal tahun 2000-an, tarian tradisional itu mulai meredup di Kota Padang, meninggalkan hanya sedikit warisan bagi masyarakat. Sanggar seni yang dulunya tumbuh subur satu per satu mulai menghilang, menyisakan hanya dua atau tiga grup yang masih bertahan di Kota Padang.
Perubahan ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi oleh kesenian tradisional dalam mempertahankan eksistensinya di tengah arus modernisasi. Warisan budaya yang dulunya menjadi kebanggaan kini terancam punah, menunggu generasi baru yang mau menghidupkan kembali api semangat yang nyaris padam.
Namun hal ini tidak membuat Tawanto berputus asa, dirinya mulai memperkenalkan tarian tersebut ke Kampus-kampus di Sumatra Barat. Sehingga beberapa kali grupnya tampil di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang. Dia juga diminta untuk menjadi pengajar Balanse Madam untuk mahasiswa di sana.
Penampilan terakhir Tawanto sebagai penari Balanse Madam terjadi dalam sebuah pementasan yang sangat istimewa. Acara tersebut adalah paparan tesis seorang dosen dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, yang diadakan di Bali. Di tengah-tengah pemaparan ilmiah tersebut, Tawanto diminta untuk mempersembahkan tarian Balanse Madam, yang menjadi puncak acara sekaligus penutup yang mengesankan.
Dengan penuh percaya diri, Tawanto melangkah ke panggung, mengenakan busana tradisional yang khas. Setiap gerakan tariannya mengalir dengan keanggunan dan ketepatan, mencerminkan latihan dan dedikasi bertahun-tahun. Penonton terpukau oleh kemampuannya, dan suasana seketika berubah menjadi penuh penghargaan dan kekaguman.
Di tengah tepuk tangan yang meriah, dosen tersebut mengumumkan sesuatu yang mengejutkan dan mengharukan. Tawanto secara resmi diakui sebagai Maestro Balanse Madam, gelar yang tidak hanya mengakui keahliannya dalam menari, tetapi juga dedikasinya dalam melestarikan seni tradisional yang hampir punah ini.

Pengakuan ini tidak hanya merupakan penghargaan pribadi bagi Tawanto, tetapi juga simbol penting bagi pelestarian budaya Nias Padang. Gelar Maestro Balanse Madam yang disematkan padanya menjadi pengingat akan pentingnya menjaga dan menghargai warisan budaya kita. Dengan demikian, Tawanto tidak hanya menjadi seorang penari, tetapi juga penjaga tradisi, yang kisah hidup dan perjuangannya terus menginspirasi generasi mendatang untuk menghargai dan melestarikan kekayaan budaya bangsa. Kepiawaian dalam tari Balanse Madam ini kemudian diwariskannya kepada anak dari saudaranya. Arozato, keponakannya itu, kemudian memindahkan sanggar Balanse yang dulu berada di rumah Tawanto ke Palinggam, Kota Padang.
Pada usia senjanya kini, Tawanto hanya menjadi penonton saja saat grup keponakannya itu tampil. Sesekali dia berdiri, mengoreksi jika ada gerakan yang para penari yang perlu diperbaiki. Dia hidup dan menghidupi tarian Balanse Madam. Kini, tanggung jawab untuk melestarikan tradisi khas masyarakat Nias di Kota Padang itu berada di tangan generasi selanjutnya. Tawanto mungkin bisa sedikit lega, selalu saja ada anak muda yang tertarik untuk terus menari Balanse Madam.